Monday, November 20, 2017

ASBABUN NUZUL


Ayat ini berkisah tentang Ashabul Ukhdud (Penggali Parit) sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dan At-Tirmidzi dari riwayat sahabat Shuhaib Ar-Rumy RA. Rasulullah SAW menceritakan tentang Ashabul Ukhdud, " Dahulu ada seorang raja yang memiliki penasihat seorang tukang sihir yang ternama. 


Usianya sudah sangat lanjut. Penyihir tersebut hendak mencari penerus dan pewaris ilmunya yang kelak akan  menggantikan tempatnya sebagai penasihat raja. Hingga didapatinya seorang anak lelaki yang cerdas.

Sayangnya sang anak tersebut (Ghulam) sering berbeda pendapat dan perangai dengan sang penyihir tersebut. Di tengah jalan antara rumahnya dan istana, terdapat sebuah gua yang dihuni oleh seorang rahib. Setiap ghulam lewat tempat tersebut ia selalu bertanya beberapa hal kepada sang rahib. Hingga sang rahib mengaku bahawa dia menyembah Allah dan mengesakannya. Lambat laun Ghulam lebih suka berlama-lama ditempat rahib untuk belajar dan selalu terlambat datang ke tempat tukang sihir.

Hingga suatu saat kerajaan memerintahkan menjemputnya ke rumah kerana hampir saja ia tidak hadir pada suatu hari. Ghulam memberitahu perihal ini kepada rahib. Sang rahib menjawab mencarikan alasan : Jika penyihir itu bertanya dimana engkau, jawab saja aku ada dirumahku. Jika keluargamu menanyakan keberadaan mu maka beritahu bahawa engkau berada di tempat penyihir.

Suatu hari, ketika Ghulam sedang di jalan, ia menjumpai sekelompok orang terhenti jalannya kerana ada binatang buas (singa) yang menghalangi mereka. Ghulam segera mengambil batu dan berkata: " Ya Allah jika yang dikatakan sang rahib benar maka izinkan aku membunuh binatang ini. Jika apa yang dikatankan sang penyihir yang benar maka aku meminta supaya Engkau menggagalkan ku membunuh binatang ini. Kemudian ia lempar batu tersebut dan binatang itu mati seketika. Orang-orang pun terperanjat setelah tahu bahawa anak kecil itu yang membunuhnya.

Mereka berkata :"Anak itu tahu suatu ilmu yang tidak diketahui oleh orang lain. Hingga didengarilah oleh seorang pejabat kerajaan yang buta. Ia mendatangi Ghulam dan berkata :"Jika engkau kembalikan penglihatanku maka akan aku beri hadiah itu dan ini. Ghulam menjawab: "Aku tidak memerlukan itu dan anda. Jika aku bisa mengembalikan penglihatanmu apakah engkau beriman kepada Dzat yang mengembalikan penglihatanmu? Dia menjawab: "Ya". maka sang buta tersebut dapat melihat dan beriman kepada Ghulam.

Berita ini tersiar sampai ke kerajaan. Hingga sang raja marah besar dan membunuhi siapa saja yang mengikuti ajaran Ghulam. Hingga ditangkaplah sang rahib dan sang buta yang telah melihat. Mereka berdua dibunuh dengan sadis, iaitu dibelah badannya dengan gergaji. Ghulam ditangkap akhirnya dibawa ke atas gunung bersama beberapa tentera kerajaan untuk dilempar dari atas gunung. Namun, tak ada yang selamat dari atas gunung kecuali Ghulam dan ia pun kembali.

Sang raja memerintahkan untuk membawa Ghulam ke tengah laut ntuk dibuang di sana. Badai pun menyerang mereka. Tak ada yang selamat kecuali Ghulam. ia pun kembali lagi. Akhirnya Ghulam berkata kepada Sang Raja :"Engkau takkan bisa membunuhku kecuali dengan mnyalibku de depan rakyatmu kemudian memanahku sambil berkata "Bismillah rabbil Ghulam" [dengan nama Allah Tuhan anak kecil ini.] Setelah disalib dan sang raja mengucapkan kata-kata tersebut dengan keras, panah yang meluncur dari busur Sang Raja itupun menancap di tubuh Ghulam dan menewaskannya sebagai seorang syahid.

Orang-orang di sekitarnya berkata :"Ghulam tahu ilmu yang tidak diketahui orang lain, kita harus beriman kepada Tuhannya. Sang Raja murka dan memerintahkan untuk menggali parit dan menyalakan api. Barang siapa yang tidak mahu meninggalkan agamanya (agama Ghulam) maka akan dilemparkan ke dalam parit yang menyala-nyala tersebut. HIngga ada seorang ibu yang menyusui anaknya sedang ragu-ragu. Sang bayi yang ada dalam buaiannya pun berkata meyakinkannya : "Ibu, sabarlah. Sesungguhnya engkau berada dipihak yang benar."

Dalam peristiwa pembakaran dan pembunuhan kaum mukminin ini gugur sebagai syuhada, ribuah orang-orang beriman kepada Allah SWT. Raja Najran tersebut mengerahkn segala tenteranya untuk membunuh kaum beriman dengan cara membakar mereka hidup-hidup di dalam parit besar yang mereka sediakan. Mereka saling menyaksikan dan dengan bodohnya mereka melakukan kezaliman itu. Hati nurani mereka yang jernih telah terkeruhkan oleh angkara dan nafsu kekuasaan.